Email ke Teman Versi Print
Home > Ascomaxx > StanleysThrills > Stanley's Thrills
 
Stanley's Thrills
Tanggal
: 18 Jan 2010
Penulis
: Stanley Setia Atmadja
Juru Foto
: -

Tidak percaya? Jika kita memutar memori saat krisis ekonomi hebat menerjang kawasan Asia Tenggara pada tahun 1997, nilai tukar Rupiah terhadap US$ terus melemah sejak paruh kedua tahun tersebut hingga awal 1998. Masa itu nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang awalnya berada di bawah rentang Rp 2.500 per dolar, tiba-tiba melonjak hingga di atas ambang Rp 15.000. Baru menjelang akhir 1998, nilai tukar mulai turun hingga di angka Rp 8 ribuan per dolar. Dan turun menembus angka Rp 7.200 per dolar pada tahun 1999.Bisa dibayangkan saat itu, akibat pengaruh depresiasi rupiah, harga Toyota Kijang yang awalnya dibanderol di rentang Rp 30 juta, tiba-tiba meroket hingga tiga kali lipat.  Sebuah kenaikan yang menakjubkan di luar kuasa ATPM. Namun kita semua akhirnya tahu, pasar tidak bereaksi banyak terhadap faktor kemerosotan kondisi ekonomi tersebut. Industri otomotif tetap mampu berjalan, berapa pun nilai tukar Rupiah saat itu.  Buktinya pada tahun 2000, angka penjualan mobil di Indonesia naik nyaris 190 persen dibanding tahun 1999.
Begitu pula ketika harga BBM Premium mengalami kenaikan sebanyak dua kali di periode kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, serta sebanyak tiga kali di periode pertama kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lonjakan harga premium dari angka Rp 700,- / liter hingga menyentuh Rp 6.000,-/liter hanya dalam kurun enam tahun, ternyata tidak mempengaruhi angka penjualan mobil di Indonesia.

Sekali lagi, saya ingin menyebut ini karena karakter konsumen pasar mobil di Indonesia yang mampu menyesuaikan keadaan. Lantas bagaimana pendapat saya tentang perkembangan pasar industri mobil di Indonesia pada tahun 2010? Senada dengan umumnya pendapat optimis dari para pengamat ekonomi di Indonesia, saya berkeyakinan tahun 2010 akan lebih baik ketimbang tahun 2009.

Pasar terbesar tentu saja adalah segmen konsumen dengan daya beli kendaraan roda empat di bawah angka Rp 300 juta. Dan ini notabene akan dikuasai potongan kuenya oleh jenis kendaraan SUV dan MPV yang masuk kategori carrier passenger, mengingat daya tampung penumpangnya hingga enam orang menjadi karakteristik market favorit di Indonesia. Beberapa pengamat dan pelaku industri otomotif telah menyebutkan angka kenaikan 15 persen di tahun 2010. Meski implementasi angka ini sesungguhnya masih di bawah angka penjualan total tahun 2008.

Di luar optimisme yang memayungi segmen terbesar di bawah Rp 300 juta tersebut, saya juga melihat pasar mobil premium akan cukup stabil. Meski saat ini ada usulan kenaikan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) hingga 200 %, psikologis konsumen di segmen premium ini rasanya akan kalem-kalem saja.

Saya sendiri berpendapat ada dua klasifikasi konsumen mobil di kelas premium. Pertama, kelas pembeli di angka Rp 500 juta hingga satu miliar rupiah. Dan kedua, yaitu konsumen dengan daya beli di atas angka 1 miliar rupiah.

Mengacu pada realitas dan indikasi di atas, rasanya tidak salah jika kita semua bisa memasuki gerbang tahun 2010 dengan senyum dan semangat baru.

ASCOMAXX
  • Stanley (StanleysThrills - 09 Apr 2010)
  • Ferrucio Lamborghini (AscoPeople - 09 Apr 2010)
  • Volvo S80 2010 (AscoDrive - 09 Apr 2010)
  • Nissan Qasqhai 2010 (AscoRev - 09 Apr 2010)
  • BMW VISION EfficientDynamics (AscoRev - 09 Apr 2010)
  • ASCO Event
    Fatmawati, 4 Aug 2010
    ASCO Isuzu Pasar Minggu 75, 15 Aug 2009
    Jl.Wijaya I Jakarta Selatan, 8 - 9 Aug 2009
    19 Pengunjung Online
    450370 TOTAL

    New Ascomaxx

     
    Sahat Leonard Tambunan